Kamis, 10 Desember 2015

R. SASTROWIDJONO Komisaris OL. Mij. Boemi Poetera Th 1915 sd 1924


R. Sastrowidjono adalah seorang Tokoh Nasional, ia berprofesi sebagai Jaksa di pengadilan Tinggi Sragen Jawa Tengah pada saatdipilih menjadi salah satu Komisaris Ol Mij Boemi Poetera pada Rapat Umum Anggota Pemegang Polis di Bandung tanggal 7 Agustus 1915.

R. Sastrowidjono bersama  M. Ng Dwidjosewoyo merupakan dua tokoh penting OL. Mij. Boemi Poetera. Bukan saja mereka merupakan tokoh nasional, tetapi karena perhatian mereka berdua kepada nasib Bangsa Indonesia yang sangat besar, yang dibuktikannya dengan berbagai usaha dan kegiatan melalui berbagai forum dan organisasi.


Disamping di Ol Mij. Boemi Poetera R. Sastrowidjono  aktif pula di  Boedi Oetama, bahkan ia ditunjuk menjadi anggota Dewan Rakyat (volksraad) mewakili  Boemi Poetera sekaligus Boedi Oetama.  Pada akhir tahun 1916, ia bersama 38 anggota Dewan Rakyat berangkat ke negeri Balanda sebagai delegasi Indie Weerbaar dslsm rangka memperjuangkan kesejahteraan dan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Jumat, 04 Desember 2015

Dr. Soetomo Penasehat Medis & Komisaris AJB Bumiputera 1912


Dr. Soetomo bernama asli Subroto, lahir di Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur, 30 Juli 1888, Pada tahun 1903, Soetomo menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, Batavia.  Dr. Soetomo bersama rekan-rekannya, atas saran dr. Wahidin Sudirohusodo mendirikan Budi Utomo (BU), organisasi modem pertama di Indonesia, pada tanggal 20 Mei 1908, yang kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Tujuan perkumpulan ini adalah kemajuan nusa dan bangsa yang harmonis dengan jalan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, kebudayaan, mempertinggi cita-cita kemanusiaan untuk mencapai kehidupan bangsa yang terhormat.

Kemudian kongres peresmian dan pengesahan anggaran dasar BU diadakan di Yogyakarta 5 Okt 1908. Pengurus pertama terdiri dari: Tirtokusumo (bupati Karanganyar) sebagai ketua; Wahidin Sudirohusodo (dokter Jawa), wakil ketua; Dwijosewoyo dan Sosrosugondo (kedua-duanya guru Kweekschool), penulis; Gondoatmodjo (opsir Legiun Pakualaman), bendahara; Suryodiputro (jaksa kepala Bondowoso), Gondosubroto (jaksa kepala Surakarta), dan Tjipto Mangunkusumo (dokter di Demak) sebagai komisaris.

Sutomo setelah lulus dari STOVIA tahun 1911, bertugas sebagai dokter, mula-mula di Semarang, lalu pindah ke Tuban, pindah lagi ke Lubuk Pakam (Sumatera Timur) dan akhirnya ke Malang. Saat bertugas di Malang, ia membasmi wabah pes yang melanda daerah Magetan. Pada tahun 1917, Soetomo menikah dengan seorang perawat Belanda. Pada tahun 1919 sampai 1923, Soetomo melanjutkan studi kedokteran di Belanda.

Pada tahun 1924, Soetomo mendirikan Indonesian Study Club (dalam bahasa Belanda Indonesische Studie Club atau Kelompok Studi Indonesia) di Surabaya. Sementara itu, tekanan dari Pemerintah Kolonial Belanda terhadap pergerakan nasional semakin keras. Lalu Januari 1934, dibentuk Komisi BU-PBI, yang kemudian disetujui oleh kedua pengurus-besarnya pertengahan 1935 untuk berfusi. Kongres peresmian fusi dan juga merupakan kongres terakhir BU, melahirkan Partai Indonesia Raya atau disingkat PARINDRA, berlangsung 24-26 Des 1935. Sutomo diangkat menjadi ketua. Parindra berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka.

Selain bergerak di bidang politik dan kedokteran, dr. Sutomo juga aktif di bidang ekonomi dan kewartawanan. Ia diberikan kepercayaan sebagai Komisaris OL Mij. Boemi Poetera mulai tahun 1925, dan sekaligus sebagai Penasehat Medis karena mulai tahun itu OL Mij Boemi Poetera menerima   polis polis dengan pemerikasaan dokter.   Dalam usia 50 tahun, ia meninggal dunia di Surabaya pada tanggal 30 Mei 1938.

Sumber:  

1.       Buku Bumiputera 1912 Menyongsong Abad 21  AJB Bumiputera 1912, Jakarta, 1992


Rabu, 02 Desember 2015

Pendiri AJB Bumiputera 1912; Bpk. M. Adimidjojo


M. Adimidjojo dilahirkan di Cilacap, Jawa Tengah, pada tanggal 2 Februari 1879.  Oleh ayahnya, M. Kramawidjaja ia diberi nama kecil Mas Adi. Pendidikan terakir yang diselesaikannya adalah Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) di Bandung sekitar tahun 1895 pada usia 16 tahun.

Dari dokumen-dokumen resmi yang dapat dihimpun, antara lain dari pihak keluarganya dan dari arsip nasional dapat diketahui bahwa M. Adimidjojo mengabdikan dirinya sebagai guru secara terus menerus dari tahun 1896 sampai pensiunnya pada tahun 1932, atau menjadi guru selama 36 tahun tanpa terputus.

Pada tanggal 15 Mei 1896, guru bantu SD Hindia Belanda di Kota Pasir Banyumas, Jawa Tengah.
Tahun 1898 dipindahkan ke Cilacap
Tahun 1901 dipindahkan ke Karanganyar Solo
Tahun 1901 dipindahkan lagi ke Majenang, Banyumas.
Tahun 1902 dipindahkan ke Grabag, Kedu
Tahun 1907 dipindahkan ke Magelang.
Tahun 1932 M. Adimidjojo dipensiunkan sebagai guru di kota Magelang

Dari ceritera yang diteruskan secara lesan oleh kalangan AJB Bumiputera 1912, terutama dari generasi Magelang disebutkan bahwa peranan M. Adimidjojo dalam persiapan pembentukan O.L. Mij. PGHB cukup besar. Antara lain dikisahkan bahwa pada tanggal 11 Februari 1912 sore hari dalam keadaan hujan diadakan pertemuan para tokoh terkemuka P.G.H.B. bertempat di rumah M. Adimidjojo yang dihadiri oleh:

1.      MKH Soebroto, Guru Bahasa Melayu, OSVIA, Magelang
2.      M. Ng. Dwidjosewojo, Guru Bahasa Jawa, Kweekschool, Yogyakarta
3.      R. Soepadmo, Mantri Guru, H.I.S. Purworedjo
4.      M. Darmodidjojo, Mantri Guru SD Dolopo, Magiun
5.      M. Adimidjojo, Mantri Guru H.I.S. Magelang.

Dalam konggres P.G.H.B. yang pertama di kota Magelang tanggal 12 Februari 1912 M. Adimidjojo terpilih menjadi Bendahara Pengurus Besar P.G.H.B.; dan hal ini berakibat langsung pada jabatannya sebagai bendahara O.L. Mij. PGHB yang dibentuk pada hari yang sama oleh konggres yang sama pula. Peristiwa ini mencerminkan sikap praktis konggres, yang juga menentukan kota Magelang sebegai kedudukan Kantor Pusat O.L. Mij. P.G.H.B. yang pada tahun 1915 berubah menjadi O.L. Mij. Boemi Poetera.

Jabatan Bendahara pada O.L. Mij. Boemi Poetera ini dipangkunya sampai dengan tahun 1918, pada saat itu terjadi perubahan susunan pengurus perusahaan, yang pada tahun itu kepengurusan O.L. Mij. Boemi Poetera diserahkan pada seorang tenaga professional yang bekerja penuh bagi perusahaan, yaitu R Roedjito sebagai Direktur.

Mulai tahun 1918 M. Adimidjojo diangkat menjadi salah seorang Komisaris O.L. Mij. Boemi Poetera yang dijabatnya sampai tahun 1924, dengan demikian ia telah mengabdi pada perusahaan selama 12 tahun tanpa terputus.

Aktifitas  M. Adimidjojo lainnya adalah menjadi anggota Budi Utomo, dan setelah menjalani masa pensiun, ia akhtif dalam Perkumpulan Persatuan Pensiun Guru hingga sampai wafatnya.


M. Adimidjojo adalah satu satunya pendiri AJB Bumiputrera 1912 yang mengalami Indonesia Merdeka, ia wafat pada tanggal 10 Desember 1956 pada usia 77 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Umum Pakuncen Yogyakarta.

Pendiri AJB Bumiputera 1912; Bpk. MKH. Soebroto



Informasi tentang tempat dan tanggal kelahiran M.K.H. Soebroto belum dapat diketahui dengan pasti, tetapi memperhatikan dokumen lain yang memuat tentang ayahnya, M.  Kerto Soebroto, kemungkinan besar ia dilahirkan di kota Semarang, sekitar tahun 1860an. Melihat perjalanan hidup M.K.H. Soebroto serta karirnya sebagai guru, diyakini ia sebaya dengan M.Ng Dwidjosewojo, bahkan kemungkinan besar dia pernah menjadi teman satu kelas di Kweekschool magelang.

M.K.H. Soebroto mewarisi tradisi ayahnya yang juga seorang guru di kota semarang, yang dipensiunkan pada tahun 1986. Kapan M.K.H. Soebroto yang nama kecilnya Armidjan menamatkan pendidikannya tidak diperolih data yang pasti. Yang jelas pada saat diadakan konggres pertama P.G.H.B. di Magelang pada tanggal 12 Februari 1912, ia adalah guru bahasa melayu di OSVIA, sebuah sekolah yang mendidik calon calon pegawai di lingkungan Depertemen Urusan Dalam Negeri Hindia Belanda, yang pada saat itu pula ia terpilih menjadi ketua pengurus besar PGHB, dengan M. Ng. Dwidjosewojo, guru bahasa jawa di Kweekschool Yogyakarta sebagai sekretaris dan M. Adimidjojo guru sekolah dasar di Magelang sebagai Bendahara. Ketiga orang pengurus PGHB tersebut juga terpilih menjadi pengurus OL Mij PGHB yang tiga tahun kemudian menjadi O.L. MIj. Boemi Poetera, yang kita kenal sekarang menjadi AJB Bumiputera 1912.

Pada tahun 1917, pada waktu pertumbuhan O.L. Mij. Boemi Poetera sudah mencapai titik yang mengharuskan adanya tenaga pimpinan tetap yang semata mata bekerja hanya untuk perusahaan, maka Rapat Anggota memutuskan untuk mengangkat seorang tenaga pimpinan “full timer” dan pilihan jatuh kepada M.K.H. Soebroto karena dinilai sangat berhasil memimpin O.L. Mij. Boemi Poetera, walaupun hanya sambilan, ternyata perusahaan dapat berkembang pesat. Tawaran menjadi pimpinan perusahaan yang “full timer” dengan jabatan Direktur ini ternyata ditolak oleh M.K.H. Soebroto, dengan alasan bahwa ia adalah seorang guru dan ingin meneruskan pengabdiannya di bidang pendidikan dan pengajaran sesuai dengan cita citanya.

Dengan diangkatnya R. Roedjito menjadi direktur O.L. Mij. Boemi Poetera pada bulan Februari tahun 1918 menggantikan M.K.H. Soebroto, berakhir pulalah jabatannya sebagai direktur pertama perusahaan yang dijabatnya sejak 12 Februari 2012, dan hubungan organisatoris lainnya dengan O.L. Mij. Boemi Poetera tidak pernah tercatat lagi dalam dokumen dokumen perusahaan. Sebagai bukti bahwa M.K.H. Soebroto adalah tokoh masyarakat yang berpengaruh, semasa ia menjadi warga kota Magelang, bersama sama R. Roedjito, ia pernah menjadi anggota Gemeenteraad ( Dewan Kotapraja), semacam Dewan Penasehat Walikota. Gemeenteraad ini hanya ada di kota-kota yang setatusnya Gemeente, yang dipimpin oleh Burgermeester (Wali kota) yang biasanya selalu dijabat oleh orang Belanda.


Dalam dokumen lain disebutkan bahwa pada tahun 1920-an M.K.H. Soebroto dimutasikan ke Normaalschool (Sekolah Pendidikan Guru untuk sekolah Bumiputera) dan mungkin sekali ia dipensiunkan dalam jabatan itu pada awal tahun 1930-an. Dokumen lain yang berhasil ditemukan, telah membuktikan bahwa M.K.H. Soebroto selama menjadi ketua pengurus besar P.G.H.B. selalu akhtif memperjuangkan nasib bangsanya, terutama kaum guru yang pada masa itu merupakan pegawai negeri yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah Hindia Belanda. Surat-surat usulan perbaikan nasib guru yang ditandatangani bersama sekretaris P.B. P.G.H.B.,  M. Ng. Dwidjosewojo telah membuktikan perjuanggannya yang gigih tersebut.  M.K.H. Soebroto wafat pata tanggal 14 September 1941 dan di makamkan di pemakaman Umum Pakuncen  Yogyakarta.

Pendiri AJB Bumiputera 1912 Bpk. M. Ng, Dwidjosewojo





M, Ng Dwidjosewojo dilahirkan pata tanggal 5 Juni 1867 di Gombong Jawa Tengah.  Oleh ayahnya Mas Kartodiwirjo, dia diberi nama Mas Achmad. Ayahnya adalah Mantri Teekenaar, dan menurut catatan terakhir bekerja di Ponorogo Jawa Timur.
Pendidikan tertinggi yang diselesaikan adalah Kweekschool (sekolah Pendidikan Guru), mula mula di magelang, karena sekolah ini ditutup, maka ia bersama kawan kawannya dipindahklan di Probolinggo Jawa Timur dan tamat pada ranggal  5 April 1886 pada usia 19 tahun. Pada tahun 1917, ia memperdalam pengetahuan bahasa belanda di bawah pimpinan seorang guru belanda bernama G.A.R van Maanen, dan dinyatakan lulus dengan nilai tertinggi pada pelajaran “spraakkunst” (berbicara lisan). Waktu itu ia telah berusia 50 tahun.

Riwayat Pekerjaan sebagai guru.

Oktober 1886  : Diangkat menjadi guru bantu SD di Ngawi
Juni 1887         : Guru SD di Ponorogo
Maret 1891      : Guru bantu SD Sri Menganti di Yogyakarta
April 1894       : Menjadi Guru SD Sri Menganti Yogyakarta
Maret 1897      : Pindah guru SD di Purwokerto
Juni 1898         : Menjadi Guru Kepala pada SD kelas satu di Purwokerto (SD kelas satu diajarkan
  bahasa belanda)
Oktober 1904  : Diangkat menjadi guru bahasa Jawa pada Kweeekschool Yogyakarta
Januari 1919    : Dipensiunkan dari guru Bahasa Jawa pada Kweekschool Yogyakarta pada usia
  52 tahun, setelah dinas selama 33 tahun

Pada tahun 1911 ditugaskan oleh pemerintah untuk mengajar seorang bernama W. Bartley, pegawai Cadet Service dari Strait Setlements untuk pelajaran bahasa Jawa.

Pada akhir tahun 1911, Dwidjosewojo bersama sama tokoh-tokoh guru Bumiputera mendirikan Perserikatan Guru-guru Hindia Belanda (PGHB), diantaranya adalah: MKH Soebroto, M Adimidjojo, R Soepadmo dan M. Darmowidjojo.

Pada tahun 1918 ditugaskan untuk menjadi anggota Komisi Pengawas di Sekolah Teknik (Ambachschool) di Yogyakarta.


Aktivitas dalam Pergerakan Nasional

Dalam bulan Agustus 1908, bersama dengan M Djoko Saroso, mendirikan Budi Utomo cabang Yogyakarta II, kemungkinan dengan jabatan Sekretaris Pengurus Cabang. Pada Saat itu sudah berdiri Budi Utimo Cabang Yogyakarta I yang diketuai oleh Dr Wahidin Soedirohoesodo.
Menjelang Konggres I Budi Utomo, Dwidjosewojo duduk dalam Panitia Penyelenggara Konggres sebagai Sekretaris I Panitia yang diketuai oleh Dr Wahidin Soedirohoesodo. Susunan lengkap panitia tersebut adalah:

Ketua              : Dr. Wahidin Soedirohoesodo
Wakil               : R.M. Pandji Brotoatmodjo
Sekretaris I      : M.Ng Dwidjosewojo
Sekretaris  II   : R. Sosrosoegondo
Bendahara       : Pangeran Noto Dirodjo,

Dalam Konggres pertama Budi Utomo yang diselenggarakan pada tanggal 3 sd 5 Oktober 1908, Dwidjosewojo terpilih menjadi Sekretari I Pengurus Besar Budi Utomo yang susunan selengkapnya sebagai berikut:

Pengurus Besar Budi Utomo
Hasil Konggres I 3-5 Oktober 1908
Di Yogyakarta

Ketua              : Kg R.T. A Tirtokoesoemo
Wakil ketua     : Dr. Wahidin Soedirohoesodo
Sekretaris I      : M. Ng.  Dwidjosewojo
Sekretaris II    : R. Sosrosoegondo
Bendahara       : R.P.M. Gondoatmodjo
Komisaris        : 1. R.M.O. Gondosoemarjo
                          2. R. Djojosoebroto
                          3. Kg.R.T.T Koesoemo Oetojo
                          4. Kg.R.T. Danoesoegondo


Pada tahun 1915 Dwidjosewojo menghadiri ceramah Kapten Dinger (KNIL) tentang perlunya angkatan milisi bagi kaum Bumiputera. Caramah ini menarik perhatian Dwidjosewojo, dan kemudian menjadi sikap politik resmi Budi Utomo, sekalipun bertolak dari sudut pandangan pendidikan rakyat. Dari peristiwa ini ternyatalah bahwa pengaruh Dwidjosewojo di kalangan Budi Utomo cukup besar.

Untuk memberikan penerangan atas masalah milisi bagi kaum bumiputera tersebut, Budi Utomo mengutus Dwidjosewojo dan Sastrowidjono untuk berkeliling jawa guna menggalang dukungan dari daerah daerah. (perlu dicatat juga bahwa Sastrowidjono adalah salah seorang Komisaris Bumiputera 1912 dari tahun 1915 sampai tahun 1925)

Pada akhir tahun 1916, Dwidjosewojo melawat ke negeri Belanda sebagai anggota Delegasi pertahanan Hindia Belanda (Deputatie Indie Weebar), dalam kaitannya dengan usulan milisi bagi kaum bumiputera yang telah menjadi sikap politik resmi Budi Utomo.

Susunan lengkap delegasi tersebut adalah:
Kepala delegasi           : D Van Hinloopen Labberton, Direktur Himpunan Theosofi, Swasta.
Anggota Delegasi       : 1. Pangeran Ario Koesoemodiningrat, Mewakili Swapraja (Kerajaan)
      Yogyakarta
                                      2. RT. Danoesoegondo, mewakili Perhimpunan Bupati
                                      3. M. Ng Dwidjosewojo, Mewakili Budi Utomo
                                      4. Abdul Moeis, Mewakili Central Sarekat Islam
                                      5. Laoh
                                      6. Kapten Rhemrev

Dwidjosewojo yang berada di negeri Belanda selama enam bulan (januari – Juni 1917) dan melakukan berbagai kegiatan di samping sebagai anggota delegasi pertahanan Hindia Belanda. Di antara kegiatan kegiatan itu adalah menemui Menteri jajahan Hindia Belanda untuk membahas usulan:
-          Masalah milisi bagi kaum bumiputera
-          Perlunya segera diadakan Dewan Perwakilan Rakyat (Parlemen)
-          Peningkatan pendidikan bagi kaum Bumiputera

Dari tiga usulan itu, justru masalah Pembentukan Perwakilan Rakyat memperolih perhatian utama dari Menteri Jajahan Hindia Belanda. Usulan ini kemudian diwujudkan dengan pembetukan Volksraad (Dewan Rakyat) pada tahun 1918. Dengan terbentuknya Volksraad (Dewan Rakyat) pada tahun 1918 itu, Dwidjosewojo diangkat menjadi anggota yang ditunjuk (gedelegeerd lid) dan duduk dalam college van gedelegeerden, semacam komite tetap, yang secara terus menerus melakukan tugas sepanjang tahun, juga di luar masa persidangan. Ia menduduki keanggotaan Volksraad itu sampai dengan tahun 1931, pada saat itu ia mencapai usia 64 tahun.


Kegiatan di Bumiputera 1912

Pada tahun 1912, bersama sama pengurus PGHB mengambil inisiatif untuk mendirikan perusahaan asuransi jiwa bagi anggota anggota PGHB, yang disetujui secara aklamasi dalam konggres PGHB di Magelang  pada tanggal 12 Februari 1912.

Dalam konggres tersebut dibentuk pengurus O.L. Mij PGHB, dan dia terpilih menjadi Komisaris. Jabatan ini dipegangnya sampai tahun 1924. Dari tahun 1925 sampai tahun 1943 ia adalah Presiden Komisaris dan wafat dalam jabatan aktif pada usia 76 tahun di Yogyakarta.

Jabatan lain di lingkungan Bumiputera 1912 adalah Direktur PT Pertanian Bumiputera, sebuah anak perusahaan di bidang pertanian dan penggilingan padi di daerah Banyumas. Jabatan ini dipegang antara tahun 1938 sampai 1941.

Dwidjosewojo adalah satu satunya pendiri Bumiputera 1912 yang terus menerus aktif di perusahaan sampai wafatya. Ia dimakamkan di Gambiran  Yogyakarta.

Beberapa Aspek Sosial Dwidjosewojo

Dwidjosewojo yang diberi nama kecil Mas Achmad oleh orang tuanya pada saat mencapai usia dewasa dan mulai bekerja, sesuai adat kebiasaan yang berlaku bagi masyarakat jawa, ia mengganti namanya menjadi Dwidjosewojo.

Dengan keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda tanggal 19 Juni 1895, pada usia 28 tahun, ia memperoleh gelar Mas Ngabehi ( M.Ng).  Gelar ini kemudian berubah menjadi Raden Wedono (R.W.) pada tahun 1919, setelah ia menjadi Sekretaris Kasultanan Yogyakarta atas titah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Hanom Hamengkubuwono No 14 tanggal 26 Juli 1919.

Sebagai  seorang tokoh pergerakan nasional dari Budi Utomo yang dikenal moderat itu, pergaulan Dwidjosewojo umumnya juga sangat dekat dengan tokoh tokoh Budi Utomo lainnya terutama Dr. Soetomo, R. Sastrowidjono yang juga anggota Volksraad mewakili Budi Utomo, R.M.A Soerjo Soeparto yang kemudian menjadi Mangkunegoro VII.

Ketokohannya yang menonjol di Budi Utomo dan didukung dengan kefasihannya berbicara bahasa Belanda (mungkin juga bahasa Inggris) ia tidak saja dikenal oleh kalangan elit yang luas pada jamannya, tetapi juga aktif sebagai tokoh masyarakat di berbagai kegiatan, terutama yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran kaum Bumiputera.